..::Kesejukan::..

Monday, July 14, 2008

si Pencuri Impian

Pernah gak ketemu dengan si Pencuri Impian ? Kalo saya seh udah buanyak kali ketemu dengan si Pencuri Impian. Sebelum membahas siapakah si Pencuri Impian itu, saya mau jelaskan perbedaan antara Impian, mimpi, dan angan - angan

Impian adalah sesuatu yang harus kita dapatkan bagaimanapun caranya. Impian adalah sesuatu yang bisa membuat kita mengangis, tertawa ataupun sedih. Impian yang membuat kita bekerja keras untuk meraihnya. Contohnya saja, seorang ibu yang mempunyai impian anak nya mejadi seorang dokter, maka si ibu itu akan mati - matian mewujudkannya, seorang mahasiswa mempunyai impian untuk mendapatkan nilai A, maka ia rela untuk belajar mati - matian walopun harus begadang, seorang Ayah yang mempunyai Impian menyekolahkan anaknya sampai jenjang pendidikan setinggi mungkin, rela untuk bekerja keras demi membiayai sekolah anaknya.

Mimpi,,,,
Kata orang, mimpi adalah kembang tidur,,,
yah... mimpi adalah kembang tidur, makanya ada istilah "jangan bermimpi terlalu tinggi karena kalo jatuh sakit rasanya"
Mimpi adalah sesuatu yang hanya sampai di pikiran kita saja tanpa berusaha untuk mewujudkannya....
Jadi,jika seseorang ingin sesuatu trus tidak berusaha untuk mewujudkannya, itu namanya mimpi....

angan - angan hampir sama dengan mimpi tapi bedanya, jika mimpi hampir setiap hari, atau bahkan setip detik dipikirkan tapi kalo angan -angan, haya sesekali saja...

Nah, sekarang siapakah si pencuri impian itu ???

SiPencuri impian itu,bisa jadi semua orang,,,

Bisa orangtuamu, kakakmu, orang - orang yang tinggal dirumahmu, suamimu, istrimu, sahabatmu, adikmu, siapa saja bisa berpeluang

Si Pencuri Impian adalah orang yang merebutimpianmu dengan cara yang halus ataupun lembut...

Misalnya, kau seorang mahasiswa yang bercita - cita mendapatkan nilai Neuro A plus, tapi ada seorang temanmu berkata begini "ah,,, Matakuliah Neuro itu matakuliah yang membosankan, karena ia membosankan makanya bahannya susah masuk di otak, kalo sudah gitu apa bisa dapat nilai A ?? Mana bahan kuliahnya buanyak lagi...."

Teman mahasiswa itulah yang disebut sebagai si pencuri impian....

Pikiran - pikiran orang yang negatif adalah si pencuri impian,,,


Trus, bagaimana caranya agar tidak terpengaruh dengan si Pencuri Impian ??


Pertama, Kita harus memvisualisasikan impian - impian kita agar jika si Pencuri Impian datang, kita tidak tergoda...

Kedua, jika semangat untuk meraih impian kita dah turun, kita harus sharing sama orang yang postif atau orang - orang yang mendukung impian kita...

Good Luck,,, ^_^
Dont Stop before you get it...!!!!
Hamasah...!!!

Labels:

posted by Indah Moidady at 7:08 PM 1 comments

Friday, June 13, 2008

Rp.500,-

Akibat harga BBM naik, maka semuanya pun ikut naik. Semua orang tau dan mengerti tentang hal ini.

Tapi, ada satu hal yang tak ku mengerti dan itu yang akan ku bahas disini.

Sebelum harga BBM naik, semua pete' - pete' (sebutan untuk angkot di Makassar) memiliki harga tarif yang sama yaitu Rp.2.000,- dan jika jarak tempuhnya dekat, biayanya Rp.1.500,- atau Rp.1.000,- kecuali pete' - pete' kampus 05, 02, dan 07 tarifnya Rp.2.500,- sedangkan pete' - pete' kampus 08 tarifnya Rp.1.500,- karena hanya dari pintu 1 UH ke pintu 2 UH, pokoknya kalo hanya beredar dalam kampus tarifnya Rp.1.500,-. Nah, kalo pete' - pete' Antang, penentuan tarifnya, tergantung dari jaraknya, kalo jaraknya dekat tarifnya seperti tarif normal, Rp.2.000,- tapi kalo jauuuhh tarifnya Rp.2.500,- jadi pada saat bayar, kita harus bilang kita naiknya dari mana.

Pada saat harga BBM naik, semua tarif angkot menjadi merata Rp.3.000,- saudara - saudara !! Ini berlangsung kurang lebih 5 hari dan setelah itu, hanya pete' - pete' kampus dan pete' - pete' ikip yang bertarif Rp.3.000,-

Pete' - pete' yang lain bertarif Rp.2.500,- tapi HATI - HATI jika anda - anda tidak menyediakan uang Rp.500,- karena jika anda membayar dengan uang selembar lima ribuan, maka uang kembalian yang akan anda terima hanya Rp.2.000,- begitu juga jika anda membayar dengan uang 3 lembar seribuan,anda tidak akan mendapatkan kembalian Rp.500,- karena si sopir tlah menjalankan kendaraannya.

Ini namanya korupsi terselubung ces, KPK sibuk menangkap para pejabat yang korup tapi KPK tidak menyadari atau tidak tau yah bahwa buanyak rakyat kecil yang juga melakukan korupsi.

Memang seh, Rp.500,- itu mungkin kecil tapi jika pengalinya besar ? Wih...

Coba deh, sekarang kita itung - itungan

Jika ada 10 orang yang tidak mendapatkan kembalian Rp.500,- selama 10 hari (tiap hari ada 10 orang), maka si sopir akan mendapatkan "penghasilan tambahan" sebesar Rp.50.000,- nah,bagaimana kalo ada 20 orang yang tidak mendapatkan kembalian Rp.500,- dan itu terjadi selama 30 hari ? Bagaimana kalo terjadi selama berbulan - bulan ? Itung sendiri deh...

Inilah salah satu dampak dari sekian buanyak dampak yang muncul akibat kenaikan BBM.

Pemerintah serba salah (menurutku pribadi seh) terhadap harga BBM, mau dinaikkan akan mencekik leher rakyat, yang miskin makin miskin, tapi laju harga BBM dunia makin meninggi, makanya pemerintah menaikkan harga BBM agar BBM kita tidak dipergunakan oleh oknum - oknum yang tidak bertanggungjawab, mereka beli banyak trus nanti dijual ke negara tetangga dengan harga yang lebih tinggi dari harga awal, maka untunglah mereka dan merugilah negara ini.

Melalui tulisan ini, saya mengajak kepada teman - teman mahasiswa serta orang - orang yang senang berdemo untuk meminta pemerintah menurunkan harga BBM yang sudah terlanjur naik, untuk berhenti berdemo. Lebih baik kita menerima semuanya dengan lapang dada dan ikhlas karena ini semua telah ditetapkan oleh Allah 'azza wa jalla 50 ribu tahun sebelum bumi di ciptakan dan Lebih baik kita belajar yang rajin aja, memperkaya diri dengan ilmu - ilmu yang bermanfaat agar kelak, kita bisa menggantikan bapak - bapak dan ibu - ibu yang memegang kuasa di negeri ini, jika teman - teman mahasiswa menganggap bahwa sistem yang mereka terapkan sekarang banyak kekurangannya, mari kita benahi sistem itu di masa mendatang !!

Jika teman - teman mahasiswa berpikir bahwa sistem pemerintahan yang mereka terapkan hanya meyengsarakan rakyat,

Ayo mari kita belajar yang rajin agar kelak kita bisa menerapkan sistem pemerintahan yang bisa membahagiakan rakyat,

Ayo mari kita menemukan penemuan - penemuan yang spektakuler yang bisa bermanfaat untuk rakyat, seperti penemuan blue energy ataupun penemuan kompor berbahan bakar biji tumbuhan, Allah telah mengaruniai kita kekayaan Alam yang buanyak, kita tinggal mengelolanya saja dan itu butuh SDM yang berkualitas

Satu hal yang harus kita ingat, kita berdemo dijalan, membuat jalanan macet, berkelahi dengan polisi, atas nama memperjuangkan kehidupan rakyat. Tidak ingatkah engkau, kalo kedua orangtuamu juga rakyat ? Engkau berdemo, ditangkap polisi atau masuk rumahsakit, siapa yang akan kau buat khawatir, cemas, gelisah dan repot ? ORANGTUA mu lah. Bagaimana jika sampe engkau di Drop Out dari kampusmu ? Lalu, dimana kata - kata yang kau lontarkan "membela rakyat" ? Rakyat yang mana yang kau bela ?

Wallahu 'alam
Makassar,
Jumat, 13 juni 2008 ditengah siang hari yang puanas banget dan kehilangan Rp.500,- nya

Labels: ,

posted by Indah Moidady at 1:05 PM 0 comments

Friday, May 16, 2008

Kuliah yang mengesankan

Hari ini benar - benar mendapat kuliah yang teramat sangat berkesan buatku. Dari kuliah perdana beberapa bulan yang lalu, matakuliah inilah yang berhasil membuatku terkesan pada semester 8 ini.

Forensik, itulah matakuliah yang membuatku waw!! Apalagi kuliah pada hari ini.

Kuliah hari ini tentang identifikasi. Kuliah hari ini bukan hanya sekedar kuliah. Bukan hanya dosen menjelaskan tentang materi kuliah tapi juga pemutaran beberapa video.

Pemutaran video - video yang berisikan tentang kejadian - kejadian besar yang terjadi di Indonesia seperti Jatuhnya pesawat Silk air di Palembang tahun 1981, Bom Bali 1, Peledakan Bom di Kedubes Australia, Stunami di Aceh, yang semua video - video itu tidak pernah menjadi konsumsi publik, hanya menjadi konsumsi untuk kalangan sendiri :D

Apalagi dosen yang memberi kuliah, salut banget buat tu dokter. Yang paling membuat saya surprise adalah walopun dokter itu bukanlah seorang Muslim tapi beliau sangat menghormati orang - orang Muslim, itu terlihat dari cara beliau memberikan semangat belajar pada kami dan dari cara beliau bercerita tentang dr.Hindun.

dr.Hindun adalah partnernya dalam bertugas. Beliau bercerita, bahwa dr.Hindun adalah seorang dokter ahli forensik yang berjilbab, yang jago banget soal otopsi mayat plus menguasai bahasa inggris layaknya native. 1 kalimat yang beliau ucapkan yang membuat saya benar - benar kagum terhadap beliau "jilbab dr.Hindun tidak menghalangi beliau untuk berbuat sesuatu, kalian juga harus seperti itu, jilbab kalian tidak boleh menghalangi kalian berbuat sesuatu yang baik !!" malah, kami diperlihatkan beberapa foto pada saat dr.Hindun melaksanakan otopsi, jilbab beliau masih terjaga, begitu juga dengan baju yang beliau pergunakan.

Memang yang dikatakan beliau adalah benar. Seharusnya kita sebagai seorang dokter wanita muslimah, kitalah yang harus tampil ke depan. Berapa banyak dokter muslimah

Thanks to dr. Peter

Labels:

posted by Indah Moidady at 6:39 PM 3 comments

Sunday, April 27, 2008

Persamaan dan perbedaan antara Orang sukses dan Orang Malas

Semua hal ada persamaan dan perbedaannya. Dengan menemukan perbedaan, insya Allah kita dapat berbuat sesuatu untuk menjadi lebih baik

Persamaan Orang Sukses dan Orang Malas
1. Sama - sama memiliki waktu 24 jam
2. Sama - sama diberikan Allah otak yang dapat berfikir

Perbedaan Orang Sukses dan Orang Malas
1. Orang Sukses dapat memanfaatkan waktu 24 jam dengan semaksimal mungkin, sedangkan Orang Malas, tidak dapat memanfaatkan waktunya dengan baik
2. Orang Sukses, menggunakan otaknya untuk berfikir sedangkan orang malas tidak menggunakan otaknya untuk berfikir
3. Orang sukses mampu bertahan lebih lama untuk mewujudkan impiannya

Waktu yang tersedia untuk semuanya adalah 24 jam,orang - orang yang sukses tidak semuanya adalah orang yang pintar, kunci mereka adalah memanfaatkan waktu dengan sebaik - baiknya, mereka mau meluangkan waktu mereka untuk focus dengan apa yang mereka impikan dan mereka mau menggunakan otak mereka untuk berfikir

Labels:

posted by Indah Moidady at 8:38 AM 1 comments

Wednesday, October 17, 2007

Aku Beda Loh...

Dalam sebuah lingkungan ataupun dalam sebuah keluarga, semua orang pasti tidak sama. Walopun kembar sekalipun, pasti ada perbedaannya. Hal ini sangat kita sadari tapi terkadang kita lupa…

Kita memaksakan seseorang untuk menjadi sesuatu yang kita inginkan, kita ingin seseorang mengikuti semua keinginan kita padahal belum tentu apa yang kita ingini itu sesuai atau cocok dengan orang lain.

Dalam keluarga, hal ini kerap terjadi tapi orangtua maupun bagian keluarga lain (misalnya, kakak, tante atau paman) memaksakan sesuatu pada anggota keluarga lain atau membanding – banding kan yang satu dengan yang lainnya.Contohnya nih yah : “Lihat tuh si A, dia tuh begini begini, beda dengan kamu, kalo kamu tuh begini begini”

Seseorang dengan orang lain tidak sama !!!

Masing - masing punya cirri khas tersendiri, masing – masing punya kekurangan dan kelebihan, jika semua orang sama, jika semua orang mempunyai kebiasaan, sifat, watak, cita – cita yang sama, maka hidup ini pasti terasa boring banget. Bayangkan deh guys, kalo satu dunia ini punya cita – cita yang sama yaitu jadi dokter…. Wah… siapa yang akan jadi arsitek untuk mendesain rumah ?
Siapa yang akan menjadi tukang jahit ?
Siapa yang akan merancang perangkat computer ??
Kalo semua jadi dokter, berarti tidak ada arsitek, tidak ada yang mau jahitkan jubahku dong… ? Kalo nggak ada yang merangcang perangkat computer,berarti ngga bisa nge-blog dong…trus, yang jadi pasiennya siapa ??

Sikap kita yang membandingkan seseorang dengan orang lain malah, akan mematahkan semangat orang tersebut.Bisa jadi, dengan kekhasan nya, dakwah atau sebuah informasi tersampaikan.Contohnya, jangan memberikan cap “anak kecil” pada seseorang yang senang bermain dengan anak – anak, karena tidak semua orang dewasa yang senang bermain dengan anak – anak sikapnya akan kekanak – kanakan karena pada saat orang dewasa tersebut bermain bersama si anak, ada pelajaran – pelajaran yang mereka berikan pada anak tersebut, atau paling kurang mereka akan betah dirumah karena mempunyai teman untuk bermain sehingga si anak tidak akan terjebak dalam kenakalan remaja dan jika si anak punya masalah dengan orang lain, dia tidak perlu untuk mencari jalan keluar yang tidak benar di tempat lain karena dia sudah punya sebuah tempat untuk menceritakan masalahnya yaitu pada orang dewasa tersebut.

Kata orang, anak seperti kertas putih yang masih bersih, orang tua dan keluarganya lah yang akan mengisi kertas itu, yang akan memberikan warna pada si anak. Tapi, saya tidak sepakat dengan pemisalan seperti itu, bagi saya seorang anak seperti sebuah mobil termahal didunia, mobil tersebut sudah lengkap dengan segala macam aksesoris mobil,misalnya AC, bantal sandaran kepala dll, dan mobil tersebut mempunyai warna cat yang cerah, semua bagian dari mobil tersebut belum rusak dan bersih, tinggal kita yang merawat mobil tersebut. Apakah kita akan membawa mobil tersebut ke jalan yang becek agar penampilannya menjadi kusam,ke jalan yang banyak paku agar mobil bannya bocor atau ke jalan yang mulus tanpa hambatan agar selalu terjaga, apakah kita akan membiarkan mobil tersebut tetap kotor tanpa mencucinya ? apakah kita akan membiarkannya tetap rusak tanpa kita service ? Begitulah seorang anak, atau pun orang lain. Mereka seperti sebuah mobil, jika kita merawat mobil kita maka kita akan diantarnya kemanapun tujuan kita tanpa ada hambatan.Begitu juga dengan anak ataupun orang lain jika kita memperlakukan mereka dengan bijaksana, maka mereka juga akan memperlakukan kita jauh lebih bijaksana

Cobalah, melihat permasalahan dari sudut pandang yang lain, jangan hanya melihat dari sudut pandang kita sendiri.Jadilah orang yang bijaksana…

Masih ingat dengan hukum sebab akibat ? itu loh, pelajaran FISIKA waktu SMP. Sesuatu tidak akan terjadi jika tidak ada sebab, Al – Qur`an juga telah menjelaskan mengenai hukum sebab akibat ini dalam surah Ar – Rad : 11 yang artinya :

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Jika seseorang melakukan sesuatu kesalahan atau sesuatu yang kita perintahkan tidak mereka kerjakan, pasti ada sebabnya. Janganlah langsung memvonis seseorang, cobalah lihat dari sisi yang lain. Bukankah seorang manusia jika dilihat dari udara hanya berupa titik ?
Intinya adalah Khusnuzon lah sama orang lain…..
Mungkin,hikmah dari ayat di bawah ini :

“Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan”
(QS.Az Zukhruf : 12)

Agar semuanya saling melengkapi, menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan pelajaran dan keunikannya serta menempatkan kelebihan kita sebagai sesuatu yang bisa menolong orang lain…..
Wallahu `alam…

Labels:

posted by Indah Moidady at 1:54 PM 1 comments

Sunday, January 07, 2007

Ubah Cara Pandang Kita !!!!!!!!!!!!!!!!

T.C Hamlett bertutur tentang kisah 2 ekor katak.2 Katak jatuh ke dalam sekaleng es krim.sisi – sisi kaleng itu mengkilap dan curam sedngkan krimnya begitu dalam dan dingin.
“Oh bagaimana ini ?” Kata katak yang pertama


“Ini tkdir,tidak ada pertolongan.Selamat tinggal sahabatku ! Slamat tingga; dunia yang menyedihkan !” Ungkapnya lagi sambil menangis lalu tenggelam.
Akan tetapi,katak kedua yang juga terjatuh ke dalam sekaleng es krim itu langsung mengayunkan kakinya untuk berenang.Sesaat dia menyeka wajah dan mengeringkan matanya yang penuh krim.


“Paling tidak aku akan berenang sejenak” Katanya
“Tidak akan membantu dunia jika satu katak lagi mati”
Satu atau dua jam dia menendang dan berenang,tidak sekalipun dia berhenti untuk mengeluh.Tetapi terus menendang dan berenang serta berenang dan menendang.Kayuhan kaki katak kedua ini,akhirnya membuat es krim yang ada di dalam kaleng tersebut lambat laun mulai mengeras.Setelah es krimitu mulai berubah seperti mentega,katak itu pun lalu melompat.
*******


Satu hal yang membedakan dua katak dalam kisah di atas adalah cara pandang mereka terhadap dunia di sekelilingnya dan bagaimana mereka terhadap hambatan yang terjadi.Salah satu unsure penting yang kita perlukan untuk memcahkan masalah – masalah yang ada di sekitar kita,baik itu pekerjaan,masalah keluarga maupun problem pribadi adalah bagaimana kita memandang masalah tersebut.

Cara pandang ini sangat di pengaruhi oleh informasi apa yang selama ini,secara terus menerus,masuk ke dalam pikiran kita.Jika selama ini informasi yang masuk ke dalam pikiran kita baik melalui bacaan,obrolan,perenungan maupun tontonan adalah hal – hal yang sifatnya memotivasi diri maka orang tersebut cenderung untuk mengambil hikmah terhadap permasalahan yang terjadi sehingga membuatnya lebih optimis.Lain halnya jika yang masuk ke dalam pikiran adalah informasi – informasi yang cenderung melemahkan diri,informasi negative tentang orang lain,bacaan yang di dominasi roman picisan dan sebagainya.Hal ini tentu akan sangat mempengaruhi dirinya.

Itulah sebabnya seorang pakar NLP (Neuro Lingustic Programming) dalam hal ini pernah mengemukakan satu peringatan keras : “Awasi pikiranmu !”
Bila kita telaah lebih dalam sesungguhnya hanya lewat cara pandang yang positif seseorang dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik atau tidak.Orang yang memiliki cara pandang positif pada umumnya sangat alergi dengan urusan pamrih atau imbalan.Baginya,menyelesaikan pekerjaan adalah the way of life bukan how to life.

Mereka yang memiliki cara pandang demikian,apapun tugas atau pekerjaan yang di berikan akan di yakini sebagai amanah yang harus di jalankan sungguh – sungguh.Mereka memiliki cara pandang tersendiri terhadap dunia di sekelilingnya sehingga tidak berharap orang lain perlu dan harus memandangnya.Bagi mereka,menyelesaikan pekerjaan bukan untuk dilihat oleh pimpinan dan bukan pula untuk meraih bendera kemenangan atau meraih kedudukan tertentu.
Cara pandang yang positif ini akan sangat mempengaruhi efektivitas kerja kiita.Cara pandang yang positif akan memampukan kita untuk selalu optimis memandang situasi dan kondisi yang sedang terjadi di tengah lingkungan kita.Bahkan melalui cara pandang demikian,secara tidak langsung akan mempengaruhi bagaimana kualitas hidup dan nilai hidup yang dimilikinya.Itulah sebabnya mereka yang mempunyai cara pandang positif akan memiliki willingness to do more dan memiliki watak pekerja cerdas.Individu yang memiliki cara pandang demikian juga,secara pribadi akan mampu memetakan kompetensi dan minatnya sehingga dia akan tahu dimana dan bagaimana dia berkembang.Dengan niat yang tulus,seluruh pekerjaan dapat di selesaikan dengan baik,karena dia tahu itu merupakan bagian dari hidupnya.

Stephen Covey “Ketika kita memandang permasalahan dan beban itu berasal dari diri kita,justru pada saat itu sebenarnya kitalah yang sedang bermasalah” sedangkan pepatah cina mengatakan “Dari pada mengutuki kegelapan,lebih baik ambil sebatang lilin dan nyalakan”
Jadi,mari kita kembangkan optimisme kita mulai hari ini untuk memaknakan aarti hidup,membangun keluarga,membangun perusahaan dan membangun masyarakat.



Optimisme yang sesungguhnya adalah menyadari masalah serta mengenali pemecahannya.Mengetahui kesulitan dan yakin bahwa kesulitan itu dapat di atasi.Melihat yang negative tapi menekankan yang positif.Menghadapi yang terburuk namun mengharapkan yang terbaik.Mempunyai alasan untuk menggerutu tetapi memilih untuk tersenyum.

Labels:

posted by Indah Moidady at 11:10 PM 0 comments

Thursday, November 23, 2006

Pahlawan itu Berusia 12 Tahun (The True Story)

Saya mendapat e-mail ini dari mailing list assunnah.or.id


Berikut kisah pengalaman dari Ustad Fariq bin Gasim Anuz yang ana kutip dari majalah As-sunnah.
InsyaAllah sangat bagus terutama untuk menambah motivasi anak.

KISAH RELAWAN CILIK (Dia Berusia 12 Tahun)

MENDAFTARKAN DIRI MENJADI RELAWAN

Pada pagi yang cerah, di kota Jeddah, sekitar pertengahan bulan Dzulhijjah 1425H, atau akhir Januari 2005M. Saat itu, saya sedang duduk di kantor Jeddah Da'wah Center (JDC) bersama rekan. Tiba-tiba masuklah seorang anak kecil sambil mengucapkan salam, lalu. menyalami kami berdua. Ia datang ke kantor JDC diantar supirnya yang berasal dari Indonesia, sementara ibu dan neneknya menunggu di mobilnya.
Anak ini masuk ke ruang sekretariat sendiri seraya mengatakan : "Saya ingin menjadi relawan di kantor dakwah ini. Ingin berkhidmat untuk kepentingan agama Islam".Saya dibuat kagum dengannya.

Saya sambut dengan baik dan saya katakan : "Kira­kira, di bidang apa Anda bisa membantu kami?"

Dia katakan, "Saya mampu menggunakan komputer dan bisa berbahasa lnggris."Karena saya tidak bisa berbahasa Inggris; maka saya minta rekan saya untuk berbicara dengannya dengan bahasa Inggris.

Setelah terjadi komunikasi antara teman dan anak ini, teman saya pun memberitahu saya : "Bagus sekali anak ini bahasa Inggrisnya"

Saya katakan, "Saya belum bisa memutuskan apakah Anda bisa diterima atau tidak. Insya Allah akan saya sampaikan kepada direktur yang juga seorang relawan. Beliau sendiri bekerja di kantor Telkom Saudi. Tapi saya optimis, kalau orang seperti Anda akan diterima, insya Allah," lalu saya minta nomor teleponnya dan saya berikan juga nomor telepon kantor kepadanya.

Lalu saya katakan : "Saya sendiri, insya Altah ada acara dakwah untuk jamaah haji Indonesia yang akan pulang ke tanah air. Anda bisa ikut bantu saya dengan membagikan kaset atau buku di air port haji di madinatu( hujjaj (asrama haji) di Jeddah, bagaimana?"
Anak itu menjawab, "Insya Allah. Saya akan minta izin orang tua dulu."
Sore harinya, orang tua Ahmad (nama anak ini), menelepon ke kantor kami mencari saya dan menanyakan : "Apa betul Anda mengajak anak saya pergi ke air port haji untuk berdakwah?"

Saya katakan, "Betul, kalau dia berminat."

Orang tuanya mengatakan : "Justru kami sangat senang sekali, jika Anda bisa membawa anak saya ke air port haji untuk ikut membantu dakwah Islam. Saya ingin anak saya ini besarnya kelak bermafaat bagi umat Islam, supaya dia ikut bergembira jika umat Islam bergembira; ikut sedih jika umat Islam sedang mendapatkan bencana dan musibah, serta supaya anak saya tidak membedakan orang menurut suku dan kebangsaan­nya, karena sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah di antara manusia adalah yang paling bertakwa. Hanya saja, karena anak ini masih kecil, kami tidak pernah membiarkan ia pergi sendiri. Meskipun ke sekolah, selalu kami antar dan kami jemput. Jadi bagaimana sekiranya dari pihak keluarga ikut juga ke air port bersama Anda?"

Saya katakan,"Itu lebih baik.. Akhirnya, kami pun berangkat ke air port haji bersama Ahmad dan keluarganya.
Dalam perjalanan ke air port, saya tanya kepada anak ini: "Apa yang memotivasi Anda beramal untuk kepentingan Islam?"

Dia menjawab,"ajru ‘indallaah" Artinya, aku mengharap ganjaran pahala dari sisi Allah.

Kemudian saya tanya lagi : "Apakah Anda hafal dzikir pagi dan sore hari?"Dia menjawab,"Saya hafal."

"Coba saya mau mendengar," tanya saya lagi. Lalu dia membaca dzikir pagi dan sore. Banyak sekali yang dia hafal. Sampai kami pulang dari air port.
Pihak kantor pun, setelah diberitahu ada anak kecil yang mendaftar menjadi relawan, menerima dengan senang hati. Dia datang ke kantor tiap hari Jum'at saat sekolah libur.

MUDAH MENERIMA NASIHAT

Yang namanya anak-anak, tentu tidak lepas dari kekeliruan dalam bersikap, dan kita harus memakluminya. Janganlah kita mudah marah kepada anak, karena kita sebagai orang dewasa juga tidak lepas dari kekeliruan. Tinggal bagaimana kita harus memperbaiki kesalahannya dengan cara yang bijaksana.
Suatu hari, pada hari Jum'at, saat kami dan Ahmad berada di kantor, datanglah tamu menemui Ustadz Hamadi al Ashlani, salah seorang pengurus kantor JDC. Tampak perbincangan yang serius di antara mereka berdua. Ahmad yang duduk dekat mereka berdua mendengar mereka berbicara, kemudian ia langsung menyambung dan memotong ucapan mereka. Mungkin dia ingin membuktikan kepada mereka berdua, bahwa ia mengerti topik yang sedang dibicarakan. Ustadz Hamadi tidak menggubris Ahmad dan tetap berbicara dengan tamunya. Ia tidak marah dan memaklumi, bahwa yang mengganggunya adalah anak-anak. Saya yang berada dekat mereka segera memanggil Ahmad dan mengalihkannya kepada kegiatan lain. Saya minta Ahmad menemani saya ke sebuah toko yang jaraknya kurang lebih 1 kilometer, untuk memberikan buku kepada orang Indonesia yang bekerja di sana. Sebelumnya dia menawarkan agar saya naik mobilnya dan ia pun segera mencari sopir. Saya berkeberatan, karena belum izin orang tuanya. Dia berpendapat tidak apa-apa. Alhamdulillah, ternyata sopir Ahmad sedang mengikuti pengajian yang dibimbing Ustadz Farid bin Muhammad al Bathathi. Akhirnya kami berdua berjalan kaki di bawah terik matahari, pulang pergi menempuh jarak sekitar 2 kilometer.

Dalam perjalanan, saya sempat bertanya kepadanya : "Pada masa yang akan datang, Anda ingin menjadi apa?"

Ahmad menjawab dengan mantap, tanpa ragu-ragu : "Ingin menjadi pedagang".

Saya sempat menyesal membawa Ahmad berjalan kaki cukup jauh untuk anak seusia dia di bawah terik matahari. Dalam perjalanan pulang ke kantor, ibunya telepon ke hp Ahmad, yang hanya dipegang jika Ahmad ke luar rumah saja. Setelah selesai, saya katakan akan bicara ke ibunya, lalu saya mohon maaf karena membawa Ahmad jalan kaki. Ibunya mengatakan tidak apa-apa. Ahmad adalah seorang olahragawan dan fisiknya kuat, insya Allah.
Pada hari yang lain, saya sedang dalam perjalanan dengan rekan sekantor. Di antara pembicaraan teman saya ini, bahwa pada hari Jum'at yang lalu -saat itu saya tidak berada di kantor- datanglah tamu dari perusahaan komputer menemui pengurus kantor. Saat pengurus kantor dan tamu sedang berbincang-bincang, Ahmad pun memotong dan ikut melibatkan diri dalam pembicaraan mereka. Ada di antara rekan yang masih muda merasa jengkel kepada Ahmad.
Malamnya, segera saya telepon orang tua Ahmad, dan saya beritahu dua kejadian. Yang satu saya saksikan sendiri, dan yang kedua saya dengar dari teman sekantor, bahwa Ahmad suka memotong dan turut campur dalam pembicaraan orang dewasa. Orang tuanya senang dengan laporan ini, dan berjanji akan menasihati Ahmad. Saya juga mengatakan kepadanya akan menasihati Ahmad, tetapi belum bisa secara langsung.
Sayapun menulis surat kepada Ahmad tentang pentingnya saling memberi nasihat sesama muslim. Di antaranya, saya sebutkan temanmu itu adalah yang bersikap jujur dan tulus kepadamu, bukan yang selalu membenarkanmu. Disamping surat tersebut, saya sertakan pula sebuah hadits dalam Shohih Bukhari yang menunjukkan, bahwa memotong pembicaraan orang lain adalah tidak sesuai dengan adab Islam. Orang tuanya juga menasihati Ahmad. Alhamdulillah, setelah itu, terjadi perubahan yang positif. Ahmad tidak suka memotong pembicaraan orang dewasa. Dia tahu kapan ia harus bicara, dan kapan ia harus diam mendengarkan. Saya sendiri perlu mencontohnya, karena terkadang tanpa terasa suka memotong pembicaraan
orang lain.

BERDAKWAH DENGAN CARA MENGINFAKKAN HARTANYA

Pada Jum'at yang lain, pengurus kantor menugaskan Ahmad untuk duduk di ruang istikbal (resepsion) menerima tamu atau pembeli yang datang. Kantor JDC menjual buku-buku dan kaset-kaset dalam berbagai bahasa, seperti : bahasa Indonesia, bahasa Tagalog (Philipina), bahasa Urdu (Pakistan), bahasa Tamil dan Sinhali (Srilangka), bahasa Inggris dan lain-lain. Sebelum mulai melaksanakan tugasnya, ia mengeluarkan dari sakunya uang sebesar 5 real Saudi (sekitar dua belas ribu lima ratus rupiah),

lalu ia mengatakan kepada kami": "Ini uang milik saya, saya bawa dari rumah".

Saya menjawab,"Kami percaya, bahwa Anda adatah orang yang jujur."

Setelah itu, saya lihat ia mulai menerima uang dari pembeli sebesar 10 real Saudi, dimasukannya ke dalam sakunya dan dicatatnya uang yang masuk tadi. Sampai datanglah seorang pengunjung asal Pakistan. Ia membeli 2 set buku yang berbahasa Inggris seharga 10 real, dan 3 kaset berbahasa Urdu seharga 9 real. Total semuanya 19 real. Sang pengunjung menyodorkan uang 50 real kepada Ahmad. Karena tidak ada kembalian, Ahmad pun membawa uang tersebut kepada sekretaris kantor di ruang lain untuk menukar uang.
Saya lihat buku berbahasa Inggris yang dibeli tertulis "Untuk Non Muslim",

maka saya tanya kepada pengunjung tersebut : "Anda membeli buku bebahasa Inggris ini untuk siapa? Untuk dibaca sendiri atau untuk orang lain?"

Saya khawatir ia salah beli. Dia menjawab,"Saya akan berikan sebagai hadiah untuk teman saya sekantor, ia kafir bukan muslim. Semoga ia mendapatkan hidayah dan masuk Islam!"

Mendengar jawaban tersebut, segera saya bergegas menuju sekretaris kantor.

Saya katakan, "Bagaimana pendapatmu, kalau buku yang dibeli oleh tamu kita ini, kita hadiahkan saja, karena buku tersebut akan dihadiahkan kepada teman sekerjanya yang kafir?"

Sekretaris kantor setuju. Ahmad mendengar pembicaraan kami berdua, karena ia sedang menunggu kembalian uang untuk tamunya. Sekretaris kantor mengatakan, jadi total yang ia beli hanya 9 real dan kembalinya 41 real. Tiba-tiba, secara spontan, Ahmad mengeluarkan uang 5 real miliknya dan ia berikan kepada sekretaris sambil berkata:

"Saya ikut menyumbang 5 real untuk beli kaset dakwah yang dibeli orang itu. Jadi biar ia membayar cukup 4 real saja".
Mendengar itu, saya menjadi terharu dan saya katakan, biar saya yang membayar 5 real,
Ahmad cukup 4 real saja.

Dia bilang,"Ustadz saja yang 4 real, saya yang 5 real,"

kemudian saya paksakan ia menerima kembali 1real. Akhirnya, pengunjung tadi mendapatkan buku-buku dan kaset secara gratis, dikembalikanlah uang 50 real. Dia pulang dengan girang.

MEMBERIKAN CERAMAH DI DEPAN JAMAAH HAJI INDONESIA


Suatu hari, saya pernah menawarkan kepada Ahmad untuk memberikan ceramah di hadapan jamaah haji Indonesia di madinatu( hujjaj di air port lama, Jeddah. Dia pun menyanggupi: Lalu saya beritahukan materinya tentang ukhuwah Istamiyah, dan saya berikan point-pointnya, yaitu tentang pentingnya ukhuwah, sarana-sarana untuk memperkokoh ukhuwah serta perusak-perusak ukhuwah.
Kira-kira dua pekan kemudian ia bertanya : "Bagaimana Ustadz, kalau saya sampaikan materi ini dengan membaca teks. Saya belum pernah berceramah sebelum ini".
Saya katakan, "Tidak apa-apa, walaupun kalau bisa tidak dengan teks itu lebih bagus." Akhirnya, pada hari yang sudah dijadwalkan, ia dengan diantar kakek dan ibunya berangkat ke madinatul hujjaj untuk berceramah di hadapan jamaah haji Indonesia . Mereka sampai disana sebelum Maghrib. Saya sempat bertanya kepada Ahmad, berapa juz ia hafal al Qur`an. Ia menjawab, 10 juz. Ketika saya sampaikan ke Ahmad, bahwa setelah ia berpidato ada acara tanya jawab. Semula Ahmad berkeberatan dengan mengatakan:" Saya tidak mempunyai wewenang untuk berfatwa". Saya tersenyum dan menjelaskan, bahwa pertanyaannya bukan tentang masalah hukum, tetapi yang sifatnya ta'aruf untuk mengenal tebih dekat lagi.
Saya sampaikan pada pembukaan kepada jamaah haji, bahwa hari ini kita kedatangan tamu; seorang anak kecil. Saya ceritakan, bahwa perkenalan saya dengannya baru satu bulan ketika dia datang ke kantor Jeddah Da'wah Center mendaftarkan diri untuk menjadi relawan di sana . Saya ceritakan tentang perhatiannya terhadap hafalan al Qur`an, doa-doa dan dzikir, kepandaiannya dalam bidang komputer dan bahasa Inggris, serta aktifitasnya yang padat dengan kegiatan olah raga, kursus-kursus komputer dan bahasa Inggris. Setelah itu Ahmad berceramah dalam bahasa Arab dengan membaca teks dan saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Ahmad berpidato dengan suara yang lantang. Ia kemukakan, bahwa ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) lebih kuat dari pada ikatan nasab (keturunan). Kemudian ia pun menceritakan sarana-sarana yang dapat memperkuat ukhuwah Istamiyah, seperti : menyebarkan salam, saling mengunjungi, saling memberi hadiah, bertutur kata dengan baik dan santun. Kemudian, ia juga menjelaskan hal-hal yang dapat merusak ukhuwah, seperti : ghibah (menggunjing) , namimah (adu domba), menyebar luaskan rahasia.
Di antara jamaah haji ada yang bertanya dengan bahasa Inggris. Ahmad menjawab pertanyaan dengan lancar.

Jamaah haji itu bertanya,"Mungkin Anda pernah tinggal di Eropa atau Amerika, atau lahir di sana barangkali?"

Ahmad menjawab,"Tidak! Saya lahir di Saudi Arabia , dan tidak pernah pergi ke luar negeri."

Jamaah haji bertanya,"Sejak kapan Anda belajar bahasa Inggris?"

Ahmad menjawab,"Saya belajar bahasa Inggris sejak umur 5 tahun."

Ahmad juga sempat ditanya jumlah saudaranya. Dia menyebutkan dua bersaudara, ia dan adiknya, Laila yang masih duduk di kelas 4 SD. Setelah selesai, maka para jamaah haji laki-taki menghampiri Ahmad dan kakeknya dan menyalaminya. Saya lihat ada di antara mereka yang menangis terharu.


AHMAD DAN BENCANA TSUNAMI

Ahmad memiliki hati yang lembut dan perhatian untuk mengetahui keadaan kaum Muslimin di belahan dunia. Ketika terjadi bencana Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004M, ia pun membaca berita ­berita tentang para korban dari koran, karena di rumahnya tidak ada televisi. Ia tidak menghabiskan waktunya untuk membaca berita dan informasi, tapi sekedar tahu secara global. Di antara perbincangan saya dengan Ahmad pada hari Jum'at adalah tentang bencana Tsunami. Dia sangat interes untuk mendengar berita dari saya, dan juga bersemangat menceritakan informasi yang dia dapat.
Tidak lama sesudah bencana Tsunami, seorang ibu yang tidak kami kenal menelpon ke kantor Islamic Center di Jeddah, meminta agar dai yang berasal dari Indonesia memberikan nasihat dalam bentuk kaset untuk kaum Muslimin di Aceh dan Sumatera Utara, agar mereka bersabar, ridha dengan ketentuan Allah, selalu bersangka baik kepada Allah, dan mengambil hikmah dari segala ujian serta cobaan yang berat ini. Alhamdulillah, akhirnya usulan ibu tersebut tertaksana, dan setelah itu, timbul ide baru agar isi nasihat itu dibukukan.
Saat penyusunan buku tersebut yang diberi judul Hikmah Di Bolik Musibah, saya mendapat sedikit kesulitan dalam penutisan hadits-hadits Nabi . Saat itu kantor belum punya CD hadits, sedangkan untuk mengetik satu per satu teks hadits bisa membutuhkan waktu yang agak panjang, karena saya belum lancar menulis dengan huruf Arab di komputer. Akhirnya saya ingat Ahmad, dan segera menelepon keluarganya untuk minta izin agar Ahmad menyempatkan waktunya untuk membantu saya mengetik hadits­ hadits Nabi berkenaan dengan musibah. Saya pun memberitahu hadits-hadits yang perlu diketik. Ahmad mengetik hadits-hadits permintaan saya itu di rumahnya, sebab di kantor sendiri pekerjaan yang ia tangani cukup banyak. Dia diberi tugas oleh pengurus kantor untuk mengetik urusan administrasi, sehingga praktis di kantor ia tidak punya waktu untuk mengetik hadits-hadits yang saya minta itu. Karena di rumahnya juga banyak kegiatan seperti belajar, ia juga aktif berolah raga seperti berenang; menunggang kuda dan bela diri,
maka Ahmad akhirnya minta bantuan adiknya, Laila, yang masih duduk di kelas 4 SD untuk membantunya. Sang ibu mengawasinya dalam mengerjakan tugas-tugas tersebut. Jika ada hal yang keliru atau salah, baru dibenarkan. Sepekan kemudian, ketika ke kantor, ia menyerahkan hasil pekerjaannya dan mengatakan : "Ustadz, saya mengetiknya sekian halaman, dan adik saya sekian halaman".
Ahmad juga ikut menyumbang 100 real (sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah) dari uang tabungannya untuk korban bencana Tsunami yang akan saya sebutkan saat perpisahan.
BERGAUL DENGAN ORANG­ ORANG YANG BAIK

Orang tua Ahmad mengarahkan dan memotivasi anaknya agar menjadi relawan di kantor Islamic Center, di antara tujuannya agar anaknya bergaul dengan orang-orang yang baik dan bisa mencontoh mereka dan terhindar dari pergaulan yang ti.dak baik.
Suatu hari saya telepon orang tuanya. Saya beritahukan ada seorang dai yang usianya 70 tahun dari Jenewa, Swiss datang ke Mekkah untuk umroh dan silaturahmi mengunjungi adik-­adiknya di Mekkah dan Jeddah. Saya katakan, sekarang masih berada di Mekkah dan saya ada janji untuk bertemu dengannya. Saya tawarkan, jika ayah Ahmad ada waktu, kita bisa bertemu di Mekkah. Orang tuanya senang dengan rencana ini, tetapi belum bisa memastikan apakah dapat berangkat atau tidak.
Kemudian, saya juga teringat Ahmad, mungkin ia tidak berminat pergi ke Mekkah untuk menemui orang tua dan mendengarkan nasihatnya. Saya katakan kepada orangtuanya, tolong tanyakan dulu kepada Ahmad, apakah ia minat atau tidak pergi ke Mekkah bersama kami. Orang tuanya mengatakan : "Saya rasa kita tidak perlu menanyakan kepada Ahmad, apakah ia minat atau tidak, karena mengunjungi orang yang shalih adalah suatu kebaikan, dan tugas kami sebagai orang tua adalah menumbuhkan minat anak".
PERPISAHAN
Tibalah saat saya pulang ke Indonesia pada pertengahan bulan Safar 1426H, atau akhir Maret 2005M. Saya izin kepada Ummu Ahmad untuk mengajak Ahmad dan sopirnya al akh Musthafa makan siang di rumah makan.
Mendengar permintaan saya, Ummu Ahmad mengatakan : "Seharusnya kami yang mengundang Anda makan di rumah, karena anda adatah tamu. Tetapi karena suami saya sedang keluar kota , maka Ahmadlah yang akan mentraktir Anda makan di rumah makan". Mulanya saya menolak, karena yang punya ide adalah saya, maka saya yang berhak untuk membayar. Beliau tetap memaksa, maka akhirnya saya mengalah. Sekitar jam empat sore sepulang saya dari masjid, saya dapatkan Ahmad dan Musthafa sudah menunggu di depan kantor tempat saya tinggal di sana selama dua bulan di Jeddah.
Sebelum berangkat ke rumah makan, Ahmad menyerahkan surat dari orang tuanya untuk saya baca, dan saya diminta untuk memberi masukan dan komentar. Surat itu dari orang tua Ahmad untuk pihak sekolah tempat Ahmad belajar.
Sebelumnya, pihak sekolah telah melontarkan surat kepada orang tua Ahmad, meminta izin bahwa dalam liburan musim panas, pihak sekolah akan merencanakan study tour ke Malaysia membawa 20 siswa yang berbakat, salah satu di antaranya adalah Ahmad. Ada dua tujuan pokok, yaitu untuk mengunjungi universitas­ universitas di Malaysia guna mengetahui sistem pendidikannya, dan yang kedua . untuk melihat kemegahan bangunan dan arsitektur di Malaysia .
Orang tua Ahmad tidak setuju dan menulis surat balasan kepada sekolah. Saya baca surat tersebut. Orang tuanya menyebutkan alasan tidak mengizinkan Ahmad, bahwa tujuan tersebut tidak begitu penting, karena anaknya masih duduk di bangku SD, sehingga kurang bermanfaat bagi anak SD untuk mengetahui sistem pendidikan di universitas. Kalaupun dianggap penting, bisa dengan mendatangi pameran­ pameran yang diadakan di Jeddah, misalnya. Begitu pula melihat kemegahan arsitektur dan bangunan tidak begitu penting, malah bisa berdampak negatif, yaitu anak-anak dapat tertipu dengan penampilan lahiriah, bangga dengan bangunan yang megah dan lupa dengan yang lebih pokok, yaitu masalah pentingnya membenahi hati, aqidah, ibadah dan akhlak.
Dalam surat itu disebutkan pula, jika pihak sekolah mempunyai program membawa siswa ke negeri-negeri Islam yang sedang tertimpa bencana, seperti ke Aceh, misalnya, untuk membantu para korban bencana, kami dengan senang hati akan mengizinkan anak kami untuk ikut berangkat. Lebih-lebih lagi kita tahu bersama, bahwa para missionaris Kristen banyak mengirim relawannya pergi ke negeri-negeri Islam yang sedang tertimpa bencana. Mereka melancarkan misinya dengan payung memberikan bantuan kemanusiaan.
Selesai membaca surat tersebut, saya beranggapan bahwa Ahmad tentu kecewa dengan keputusan orang tuanya ini. Segera saya ingin menghiburnya. Saya pancing Ahmad dengan pertanyaan : "Apakah Anda kecewa tidak berangkat ke Malaysia ?" Ahmad menjawab dengan mantap : "Saya tidak kecewa". Saya tanya,"Mengapa tidak kecewa? Padahal teman-teman Anda berangkat ke sana ." Kemudian Ahmad menjelaskan kepada saya, persis seperti isi surat orang tuanya untuk pihak sekolah.
Tidak terasa hari semakin sore, sedangkan kami belum makan siang. Ahmad mengatakan kepada saya : "Ustadz bisa pilih, ingin makan di rumah makan mana? Tidak mesti yang dekat, yang jauh juga boleh".Saya katakan kepadanya, yang dekat saja di rumah makan at Tazaj. Berangkatlah kami bertiga ke rumah makan yang jaraknya dari kantor kurang lebih 1 kilometer. Setelah kami pesan makanan, saya tanya kepada Ahmad, pilih minum Pepsi Cola, Seven Up atau apa? Dia menjawab,"Saya pilih air putih saja." Musthafa mengatakan, bahwa Ahmad memang sejak kecil tidak minum minuman seperti itu.
Selama kami makan, kami berbicara. Saya lupa apa saja yang kami bicarakan saat itu. Yang saya ingat, saya sempat bertanya kepadanya:"Apakah Anda sudah membaca surat yang saya tulis di Masjidil Haram di Mekkah untuk Anda?" Ahmad menjawab,"Belum, karena semalam saya kecapaian sehingga langsung tidur."
Setetah kami selesai makan, ada di antara pelayan restoran yang berasal dari Philipina memberikan hadiah berupa selebaran berwarna-warni untuk anak-anak, dan diberikannya kepada Ahmad. Semula Ahmad tidak ingin mengambilnya, bisa jadi karena ia merasa bukan anak-anak lagi. Saya segera minta kepadaAhmad untuk menerimanya. Setelah kami sampai di mobil, saya katakan, kita berusaha untuk menjaga perasaan orang lain, jika Anda terima, berarti Anda menggembirakan dia. Dan jika Anda tolak, bisa membuat dia sedih atau kecewa.
Dalam perjalanan ke kantor, Ahmad mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang sebesar 100 real, lalu dia berikan kepada saya seraya berkata : "Ustadz akan pulang ke Indonesia , ini saya titip uang 100 real dari tabungan saya untuk korban bencana alam Tsunami di Aceh." Terharu saya mendengar ucapannya yang tulus keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Sebenarnya saya tidak ingin menerima amanat ini. Tetapi karena saya juga tidak ingin mengecewakan Ahmad yang ingin berpartisipasi ikut andil menyumbang, akhirnya amanat tersebut saya terima, dan saya katakan : "Insya Allah saya akan sampaikan amanat ini kepada orang yang berhak menerimanya" .
Dia juga menawarkan diri untuk mengantar saya sampai air port. Saya katakan, bahwa saya sudah janji dengan Ustadz Farid al Bathathi, beliau yang akan mengantarkan saya ke air port. "Yang kedua, saya tahu bahwa jadwal Anda sangat padat. Saya tidak mau mengganggu kegiatan Anda".
Tibalah saat perpisahan. Saya tidak tahu, apakah dapat berjumpa kembali dengannya atau tidak. Yang jelas banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan dari Ahmad dan keluarganya.
Semoga Allah memberikan taufik kepada Ahmad dan anak-­anak kaum Muslimin untuk tetap istiqomah dalam ketaatan, dan memberikan taufik kepada kedua orang tua Ahmad dan semua orang tua Muslimin untuk dapat mendidik anak-anak mereka menjadi anak-anak yang shalih.Rabbana laatuzikhquluubanaa ba’da idzhadaitanaa wahablanaa milladunkarahmah innaka antalwahhab.
Banyak sekali pelajaran yang bisa kita dapatkan dari kisah Ahmad. Insya Allah penulis akan membahasnya dalam sebuah buku tersendiri.

Labels:

posted by Indah Moidady at 9:31 AM 0 comments

Wednesday, November 22, 2006

say NO to PESIMIS

Tidak hanya satu atau dua orang yang ku temui yang bersifat pesimis.....
Mereka selalu mengatakan :

"Tidak bisa in... saya sudah coba..."
"sudah berapa kali ? tanyaku
"baru 2 kali...."

atau

"Huh... malasku... ke sini lagi trus ke sini lagi....malasku..."

atau

"Itu dosen kenapakah,kasih tugas banyak sekali ???"

Atau

"apa maunya itu asisten kah ??? banyak sekali disuruh ulang gambarku..."

Secepat itukah mereka menyerah ????

Imam Ahmad meriwayatkan dari Hubbah dan sawa.2 anak khalid,keduanya berkata :"Kami mendatangi Rasulullah ketika beliau tengah memperbaiki sesuatu.kemudian kami berdua membantunya.Beliau bersabda : `Janganlah kamu berputus asa dari rezeki selama kamu dapat menggeleng - gelengkan kepala.Manusia di lahirkan oleh ibunya sebagai bayi merah tanpa secarik kainpun.Kemudian Allah `Azza wa Jalla memberinya rezeki.
(HR.Ahmad)


Seseorang yang pesimis berarti dia cepat berputus asa dari rahmat dan pertolongannya Allah,itu menurutku pribadi seh...tapi,dalam Al - Qur`an surah Ar Rad ayat ke 11,yang artinya :

Allah tidak akan merubah nasib sebuah kaum jika kaum itu tidak merubahnya sendiri

Memang,apa yang terjadi pada diri kita dalam artian,rezeki kita,jodoh,ajal,pokoknya segala sesuatu yang terjadi pada diri kita telah tertulis dalam sebuah kitab yang bernama Lauful Mahfudz sebelum 50 ribu tahun bumi diciptakan,Tapi apakah kita sudah tau apa yang terjadi untuk kita? Dalam ayat di atas,Allah swt menyuruh kita untuk selalu berusaha dan berusaha tak kenal pantang menyerah.Dalam Al - Qur`an surah Ar Rahman tapi afwan jiddan ana lupa ayat berapa (ada yang tau ??? bantu dong...),Allah SWT berfirman :

ALLAH SELALU DALAM KEADAAN SIBUK



Dalam ayat itu maksudnya Allah selalu sibuk dengan urusanNya,mengurusi makhlukNya,mengurusi alam ini,dll

Jika di ibaratkan dalam sebuah pekerjaan,apakah kita tidak malu jika atasan kita rajin bekerja sedang kita bawahannya malas untuk bekerja ???? apakah tidak malu ????


Thomas alva edison berhasil merangkai sebuah lampu setelah melewati 999 kali kegagalan.....Lihat !!!!!! Thomas alva edison berhasil setelah dia melakukan 1000 kali percobaan.

Cara Menghilangkan Pesimis


SEMANGAT!!!!!!!!!!!!

Labels:

posted by Indah Moidady at 5:46 PM 0 comments

Wednesday, November 08, 2006

wortel,telur dan Kopi

Seorang anak perempuan mengeluh pada sang ayah tentang kehidupannya yang sangat berat. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan bermaksud untuk menyerah. Ia merasa capai untuk terus berjuang dan berjuang. Bila satu persoalan telah teratasi, maka persoalan yang lain muncul. Lalu, ayahnya yang seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air kemudian menaruh ketiganya di atas api. Segera air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama dimasukkannya beberapa wortel Ke dalam panci kedua dimasukkannya beberapa butir telur. Dan, pada panci terakhir dimasukkannya biji-biji kopi. Lalu dibiarkannya ketiga panci itu beberapa saat tanpa berkata sepatah kata. Sang anak perempuan mengatupkan mulutnya dan menunggu dengan tidak sabar. Ia keheranan melihat apa yang dikerjakan ayahnya. Setelah sekitar dua puluh menit, ayahnya mematikan kompor. Diambilnya wortel-wortel dan diletakkannya dalam mangkok. Diambilnya pula telur-telur dan ditaruhnya di dalam mangkok. Kemudian dituangkannya juga kopi ke dalam cangkir. Segera sesudah itu ia berbalik kepada putrinya, dan bertanya:
"Sayangku, apa yang kaulihat?"
"Wortel, telur, dan kopi," jawab anaknya.
Sang ayah membawa anaknya mendekat dan memintanya meraba wortel. Ia melakukannya dan mendapati wortel-wortel itu terasa lembut. Kemudian sang ayah meminta anaknya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya si anak mendapatkan telur matang yang keras. Yang terakhir sang ayah meminta anaknya menghirup kopi. Ia tersenyum saat mencium aroma kopi yang harum. Dengan rendah hati ia bertanya
"Apa artinya, bapak?"
Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda telah merasakan penderitaan yang sama, yakni air yang mendidih, tetapi reaksi masing-masing berbeda. Wortel yang kuat, keras, dan tegar, ternyata setelah dimasak dalam air mendidih menjadi lembut dan lemah. Telur yang rapuh, hanya memiliki kulit luar tipis yang melindungi cairan di dalamnya. Namun setelah dimasak dalam air mendidih, cairan yang di dalam itu menjadi keras. Sedangkan biji-biji kopi sangat unik. Setelah dimasak dalam air mendidih, kopi itu mengubah air tawar menjadi enak.
"Yang mana engkau, anakku?" sang ayah bertanya.
"Ketika penderitaan mengetuk pintu hidupmu, bagaimana reaksimu?
Apakah engkau wortel, telur, atau kopi?"
Bagaimana dengan ANDA, sobat? Apakah Anda seperti sebuah wortel, yang kelihatan keras, tetapi saat berhadapan dengan kepedihan dan penderitaan menjadi lembek, lemah, dan kehilangan kekuatan? Apakah Anda seperti telur, yang mulanya berhati penurut? Apakah engkau tadinya berjiwa lembut, tetapi setelah terjadi kematian, perpecahan, perceraian, atau pemecatan, Anda menjadi keras dan kepala batu? Kulit luar Anda memang tetap sama, tetapi apakah Anda menjadi pahit, tegar hati,serta kepala batu? Atau apakah Anda seperti biji kopi? Kopi mengubah air panas, hal yang membawa kepedihan itu, bahkan pada saat puncaknya ketika mencapai 100º C. Ketika air menjadi panas, rasanya justru menjadi lebih enak. Apabila Anda seperti biji kopi, maka ketika segala hal seolah-olah dalam keadaan yang terburuk sekalipun Anda dapat menjadi lebih baik dan juga membuat suasana di sekitar Anda menjadi lebih baik. Bagaimana cara Anda menghadapi penderitaan? Apakah seperti wortel, telur, atau biji kopi?
"Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum,
kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya."
Q.S Ar Rad : 11
source :
www.medicalzone.org

Labels:

posted by Indah Moidady at 12:25 AM 0 comments

Kisah 2 Ekor katak

T.C Hamlett bertutur tentang kisah 2 ekor katak.2 Katak jath ke dalam sekaleng es krim.sisi – sisi kaleng itu mengkilap an curam sedngkan krimnya begitu dalam dan dingin.“Oh bagaimana ini ?” Kata katak yang pertama“Ini tkdir,tidak ada pertolongan.Selamat tinggal sahabatku ! Slamat tingga; dunia yang menyedihkan !” Ungkapnya lagi sambil menangis lalu tenggelam.Akan tetapi,katak kedua yang juga terjatuh ke dalam sekaleng es krim itu langsung mengayunkan kakinya untuk berenang.Sesaat dia menyeka wajah dan mengeringkan matanya yang penuh krim.“Paling tidak aku akan berenang sejenak” Katanya“Tidak akan membantu dunia jika satu katak lagi mati”Satu atau dua jam dia menendang dan berenang,tidak sekalipun dia berhenti untuk mengeluh.Tetapi terus menendang dan berenang serta berenang dan menendang.Kayuhan kaki katak kedua ini,akhirnya membuat es krim yang ada di dalam kaleng tersebut lambat laun mulai mengeras.Setelah es krimitu mulai berubah seperti mentega,katak itu pun lalu melompat.*******Satu hal yang membedakan dua katak dalam kisah di atas adalah cara pandang mereka terhadap dunia di sekelilingnya dan bagaimana mereka terhadap hambatan yang terjadi.Salah satu unsure penting yang kita perlukan untuk memcahkan masalah – masalah yang ada di sekitar kita,baik itu pekerjaan,masalah keluarga maupun problem pribadi adalah bagaimana kita memandang masalah tersebut.Cara pandang ini sangat di pengaruhi oleh informasi apa yang selama ini,secara terus menerus,masuk ke dalam pikiran kita.Jika selama ini informasi yang masuk ke dalam pikiran kita baik melalui bacaan,obrolan,perenungan maupun tontonan adalah hal – hal yang sifatnya memotivasi diri maka orang tersebut cenderung untuk mengambil hikmah terhadap permasalahan yang terjadi sehingga membuatnya lebih optimis.Lain halnya jika yang masuk ke dalam pikiran adalah informasi – informasi yang cenderung melemahkan diri,informasi negative tentang orang lain,bacaan yang di dominasi roman picisan dan sebagainya.Hal ini tentu akan sangat mempengaruhi dirinya.Itulah sebabnya seorang pakar NLP (Neuro Lingustic Programming) dalam hal ini pernah mengemukakan satu peringatan keras : “Awasi pikiranmu !”Bila kita telaah lebih dalam sesungguhnya hanya lewat cara pandang yang positif seseorang dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik atau tidak.Orang yang memiliki cara pandang positif pada umumnya sangat alergi dengan urusan pamrih atau imbalan.Baginya,menyelesaikan pekerjaan adalah the way of life bukan how to life.Mereka yang memiliki cara pandang demikian,apapun tugas atau pekerjaan yang di berikan akan di yakini sebagai amanah yang harus di jalankan sungguh – sungguh.Mereka memiliki cara pandang tersendiri terhadap dunia di sekelilingnya sehingga tidak berharap orang lain perlu dan harus memandangnya.Bagi mereka,menyelesaikan pekerjaan bukan untuk dilihat oleh pimpinan dan bukan pula untuk meraih bendera kemenangan atau meraih kedudukan tertentu.Cara pandang yang positif ini akan sangat mempengaruhi efektivitas kerja kiita.Cara pandang yang positif akan memampukan kita untuk selalu optimis memandang situasi dan kondisi yang sedang terjadi di tengah lingkungan kita.Bahkan melalui cara pandang demikian,secara tidak langsung akan mempengaruhi bagaimana kualitas hidup dan nilai hidup yang dimilikinya.Itulah sebabnya mereka yang mempunyai cara pandang positif akan memiliki willingness to do more dan memiliki watak pekerja cerdas.Individu yang memiliki cara pandang demikian juga,secara pribadi akan mampu memetakan kompetensi dan minatnya sehingga dia akan tahu dimana dan bagaimana dia berkembang.Dengan niat yang tulus,seluruh pekerjaan dapat di selesaikan dengan baik,karena dia tahu itu merupakan bagian dari hidupnya.Stephen Covey “Ketika kita memandang permasalahan dan beban itu berasal dari diri kita,justru pada saat itu sebenarnya kitalah yang sedang bermasalah” sedangkan pepatah cina mengatakan “Dari pada mengutuki kegelapan,lebih baik ambil sebatang lilin dan nyalakan”Jadi,mari kita kembangkan optimisme kita mulai hari ini untuk memaknakan aarti hidup,membangun keluarga,membangun perusahaan dan membangun masyarakat.Optimisme yang sesungguhnya adalah menyadari masalah serta mengenali pemecahannya.Mengetahui kesulitan dan yakin bahwa kesulitan itu dapat di atasi.Melihat yang negative tapi menekankan yang positif.Menghadapi yang terburuk namun mengharapkan yang terbaik.Mempunyai alasan untuk menggerutu tetapi memilih untuk tersenyum.(Di ambil dari sebuah buku yang berjudul “Setengah Kosong setengah Isi” karya Parlindungan Marpaung)

Labels:

posted by Indah Moidady at 12:23 AM 0 comments